Skip to main content
Banawa Maiyah

follow us

Like Facebook | Follow Instagram

Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai

Thala'al Badru di Serambi

Sebenarnya pada mulanya tak banyak orang kampung yang memperhatikan langgar Kiai Sudrun. Memang slentang-slenting terdengar orang aneh itu mendirikan semacam gubug-panggung gedheg kecil jauh di kedalaman kebun. Beberapa tetangga, terutama anak-anak kecil, sudah pula menyaksikannya.

Akan tetapi, apa pula menariknya. Di mana-mana orang berlomba bikin rumah bergaya Spanyol, atau paling tidak pokoknya rumah tembok yang ada kaca lebarnya--supaya dari luar tampak hiasan-hiasan ruang depan rumah itu yang berupa almari bufet besar, berisi barang pecah belah, kalender bintang film, salon tape recorder, atau pokoknya segala macam yang membuat si empunya merasa modern.

Lha kok Sudrun ini malah bikin bangunan bambu. Semua orang berlari melaju ke masa depan, Sudrun meluncur ke masa silam. Sekarang listrik sudah masuk desa. Setiap masjid ada corongnya untuk mengeraskan suara adzan. Ada jam dinding. Ada hiasan kaligrafi. Bahkan, ada kipas anginnya segala. Lah, langgar Sudrun ini dikasih tikar plastik saja tidak cocok!

Alhasil, sama sekali tidak menarik minat orang-orang desa yang sudah semakin ikut berangkat modern. Terus terang saja, lha wong gardu atau cakruk saja sekarang ini pakai tembok batu bata, lho. Ada kaca ribennya segala. Disediakan radio dan tape recorder segala, supaya kalau pas ronda kamling bisa sambil dangdutan.

Akan tetapi, mau gimana. Tentu karena Sudrun memang bisanya hanya begitu. Duit mbahnya siapa yang mau dia minta untuk membangun langgar yang lebih baik? Setidak-tidaknya dengan adanya bangunan kecil di kebun yang rungsep atawa rimbun itu bisa mengurangi wilayah sepak terjang para maling.

Kalau ada maling, pasti kan tidak berani lewat di sekitar langgar itu. Asal saja Sudrun jangan berlaku seperti Sufi Nashrudin Hoja yang kalau ada maling malah bersembunyi gara-gara malu tak punya apa-apa yang bisa dicuri oleh maling.

Akan tetapi, lama-lama langgar itu menarik perhatian makin banyak orang. Kalau Maghrib, suasananya sepi, tapi begitu banyak orang di mana-mana selesai shalat, langgar itu ribut. Kiai Sudrun teriak-teriak menyanyikan "Thalal'al Badru" atau apa saja yang memuji-muji Nabi Muhammad. Keras-keras dan. maaf, agak sumbang. Sebab, memang taraf bakat Sudrun hanya segitu.

Yang paling berpengaruh adalah anak-anak muda. Dulu pemuda-pemudi dan anak-anak seusai Maghrib selalu ngaji bersama, tapi sekarang macam-macam yang dilakukannya. Mereka punya tradisi lamcing: habis salam akhir langsung plencing pergi. Ada yang nonton televisi, nyetel video, main domino atau karambol, atau kumpul-kumpul untuk merancang nonton dangdut di desa sana.

Malam itu Sudrun kasidahan tidak ketulungan. Suaranya membelah senja hari, menggoyangkan rerimbunan kebun, dan menusuk-nusuk telinga para tetangga. Terkadang sumbang tak keruan, tapi sesekali indah bukan buatan. Diam-diam ada yang mengakui sesungguhnya Sudrun ini qari yang baik. Namun, yang bikin pusing para tetangga adalah ini: di sela-sela kasidahan, Sudrun mendadak menangis sesenggukkan seperti anak kecil.

"Apa-apaan itu!" para tetangga bertanya satu sama lain. Ketika mereka satu per satu mendatangi langgar, tampak Sudrun berlaku macam-macam. Terkadang bersujud, lantas seperti orang menyembah-nyembah, kemudian menelentang, dan pada saat lain tertawa. Namun, lantas menangis dan menangis sambil kakinya dietak-entakan persis seperti anak balita.

"Kalian ini bagaimana, toh?" tiba-tiba ia berkata sambil memandangi orang-orang yang mengerumuninya.

"Lho, kok malah tanya!" salah seorang menyahut.

"Kalian ini orang Islam atau bukan! Dari tadi junjungan kita Rasulullah Muhammad Saw. hadir di sini, tapi kalian acuh tak acuh saja. Beliau datang karena mencintai kita semua, tapi kalian melakukan yang tidak-tidak disana..."

Tangis Sudrun kian menjadi-jadi. "Kenapa kalian bengong saja? He? He? Kamu! kan ustad, suka mengimami sembahyang! Kenapa beloon saja di situ? Memberi hormat, kek! Mengangguk, kek! Atau, ucapkan salam,.... Ayo, kamu! Kamu...."

Sudrun menujuk orang-orang di sekitarnya. Orang-orang yang berkerumun itu semakin bingung saja, tak tahu apa yang mesti mereka perbuat.

"Apa kalian pikir Kanjeng Nabi sudah tidak ada karena beliau hidup tiga belas abad yang lalu?" lanjut Sudrun dengan napas yang mulai terengah-engah. "Jadi rupanya kalian selama ini bersyahadat dengan menyebut seseorang yang sudah tidak ada. Kalian pikir Muhammad sudah lenyap di masa silam. Kalian pikir di sini tidak ada Muhammad! Ini beliau! Ini lho! Berdiri di sini, sambil tersenyum memandangi kalian semua! Oalah .... Kanjeng Nabi! Ampun! Maafkanlah tetangga-tetanggaku ini. Mata mereka semakin buta karena tiap hari hanya dipakai untuk melihat hal-hal yang engkau tidak sukai. Telinga mereka semakin tuli karena setiap saat mereka pakai untuk mendengarkan sesuatu yang dulu hatimu membuangnya. Indra dan batin mereka tidak terlatih untuk memandang kenyataan-kenyataan yang sejati. Oh, maafkanlah, Kanjeng Nabi, maafkanlah.."

Kiai Sudrun tersujud-sujud. Menangis sesenggukan.
"Gendheng!" Terdengar suara salah seorang, yang sesaat kemudian pergi meninggalkan arena membingungkan itu.

"Halusinasi...," terdengar suara lain.
Akan tetapi, kemudian terdengar suara yang lain lagi. "Maafkan kami, Kiai. Kiai bisa menyaksikan kehadiran Nabi, tapi kami tidak. Kami ini manusia biasa. Kami hanya bisa melihat hal-hal biasa...."

"Jadi kamu pikir aku bukan manusia biasa?"
"Bukan begitu maksud kami..."
"Kamu percaya atau tidak bahwa Kanjeng Nabi kita hadir ke tengah-tengah kita?"
"Kami tidak punya alat untuk percaya atau tidak percaya."
"Apakah kamu juga tidak percaya bahwa Nabi Ibrahim mendapat perintah dari Allah untuk menyembelih Ismail, serta bahwa Nabi Khidlir diperkenankan oleh Allah untuk mencekik anak kecil itu, atau bahwa Jibril datang membawa wahyu kepada Rasulullah Muhammad?"
Tidak terdengar jawaban.
(halaman 208-212)


Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Bentang
Cetakan 2015

You Might Also Like:

Buka Komentar