Skip to main content
Banawa Maiyah

follow us

Like Facebook | Follow Instagram

Kitab Ketentraman Emha Ainun Nadjib


Gaji dari Kantor Rejeki dari Tuhan

"Pelukis membikin lukisan, ia mencintai lukisan itu dan bertanggung jawab atasnya. Kalau ada orang merusak lukisan itu pelukisnyalah pihak pertama yang tidak rela. Tuhan menciptakanmu, Ia mencintaimu dan bertanggung jawab atasmu. Kalau ada orang merusakmu, Sang Penciptamu itulah pihak pertama yang tidak rela", demkian Cak Nun menggambarkan soal hakekat otoritas dan tanggungjawab dasar.

"Tuhan juga yang menciptakan seluruh suku cadang yang berdasar kesepakatan kita sebut negara dan bangsa Indonesia. Ia yang paling tidak rela atas kerusakannya, meskipun cara-Nya memandang masalah, cara-Nya mengatasi masalah, kriteria-Nya tentang bagaimana yang selamat bagaimana yang celaka - bisa sama sekali berbeda dengan cara kita memandang, dengan cara kaum cendekiawan, politisi, ekonomi dan budayawan manusia memandang."

"Maka yang lebih menjamin ketentraman adalah membuka diri terhadap wacana Tuhan mengenai itu semua. Kemungkinan lain adalah kita hancur sendiri. Kecuali kita mengambil alih eksistensi dan peran Tuhan, dan itu dipersilahkan seluas-luasnya."

"Di dalam kehidupan pribadi, kita perjuangkan demokrasi gaji di kantor dan keadilan pendapatan dalam peta perokonomian bersama. Sambil kita bersangka baik kepada kemurahan hati Tuhan. Sebab yang kita terima dari hasil kerja tidak sama dan sebangun dengan rejeki dari Tuhan. Rejeki adalah terminology yang bisa berbeda sama sekali. Mendapat uang banyak dan menjadi menteri, ternyata bencana. Tidak menjadi menteri dan uang sedikit, ternyata rejeki. Bisa saja demikian. Kenapa tidak."

"Allah mengatakan bahwa Ia 'patuh kepada hamba-Nya yang mematuhi-Nya'. Kalau kita berpendapat Ia pelit, maka Ia menahan rejeki-Nya atas kita. Kalau kita yakin dan gembira bahwa Ia Maha Pemurah, maka Ia limpahkan rejeki-Nya, meskipun tidak harus berwujud hal-hal yang menurut konsep manusia disebut rejeki."

"Lebih efektif berjuang mempelajari keinginan Tuhan atas seluruh inisiatif-Nya menyelenggarakan hidup kita ini, daripada bunuh diri jangka panjang melalui penyembahan terhadap keinginan-keinginan diri yang subyektif dan egoistik, yang pasti akhirnya akan membuat kita terpuruk. Kecuali kita adalah bayi, yang hidup seratus persen dengan keinginan dan keinginan dan keinginan, tanpa kontrol apapun yang lain".

"Maka, yang disebut orang dewasa adalah hati yang selesai", kata Cak Nun.

"Hati yang selesai adalah hati yang atas bantuan akal sanggup menaklukkan keinginan. Keinginan yang paling superfisial atau dangkal itu selera, keinginan yang mendalam, berakar dan berenerji besar itu nafsu. Setiap gerak batin meminta ongkos enerji, sehingga hidup yang tidak boros adalah managemen untuk meminimalisir penggunaan enerji untuk keinginan. Anda tidak perlu punya keinginan mendalam untuk mencari uang dan harta benda, karena kalau Anda bekerja keras dengan langkah yang benar, maka Anda pasti akan mendapatkannya meskipun tidak menginginkannya. Jadi enerjimu dipakai untuk bekerja saja."

"Seorang tukang becak mengantarkan penumpangnya dengan menumpahkan enerjinya untuk nggenjot, bersikap sopan dan melayani sebaik-baiknya sampai ke tujuan. Meskipun selama menarik becak ia tak membawa keinginan untuk mendapatkan uang, ia pasti mendapatkannya. Soal keharusan transaksi dengan penumpang, itu kewajaran logis yang dengan sendirinya terjadi."

"Selama hidup hanya beberapa kali saya punya keinginan mencari uang. Saya kemudian bahkan (maaf) 'mengharamkan' diri saya mencari uang. Mohon maaf ini adalah rasa syukur dan apresiasi terhadap konsep Tuhan atas manusia, semoga bukan keangkuhan hidup. Allah menciptakan khalifah yang tinggi derajatnya, tidaklah pantas kalau diambrukkan eksistensi kemuliaannya itu hanya kepada keinginan untuk mencari uang, sebagai agenda paling primer dari kehidupan. Cukuplah kita berupaya menjadi manusia yang rajin bekerja, terus melatih ketrampilan, skill, berlaku professional, bisa dipercaya, orang merasa aman kalau menitipkan sesuatu kepada kita. Konsentrasikan diri pada pembangunan kepribadian semacam itu, maka salah satu akibatnya insyaallah akan uang mencari dan mengejar Anda.

"Kapan-kapan kita bicarakan tentang pola siklikal ekonomi barokah, yang insyaallah membuat kita bukan hanya tidak terlalu ikut mengalami krisis bersama ekonomi makro negara, tetapi bahkan juga memperoleh ketakjuban betapa secara penuh rahasia Tuhan menganugerahkan kesejahteraan 'min haitsu la yahtasib', yang tak terduga-duga dan di luar koridor teori dan 'logika datar' ekonomi modern. Saya begaul dengan suatu komunitas penuh barokah yang selama krisis beberapa tahun belakangan ini mereka malah mendapatkan keberlimpahan rahmat Tuhan. Tidak hanya ekonomi, tapi juga kesejahteraan kultural, kesejahteraan kreativitas, kesejahteraan batiniyah dan kesehatan badan."
(halaman 21-24)

Penyusun : M. Alfan Alfian M., Aprinus Salam, Wawan Susetya.
Penerbit : Zaitun dan Republika
Cetakan Pertama 2001
Dipublikasikan : Banawa Maiyah

You Might Also Like:

Buka Komentar