Skip to main content
Banawa Maiyah

follow us

Like Facebook | Follow Instagram

Gelandangan di Kampung Sendiri

Darah Dagingku Riba

Seorang mahasiswa di Malang, melalui suratnya, menyatakan rasa cemas, jangan-jangan yang selama ini ia makan dari orangtuanya  yang pedagang itu adalah riba. Bahkan, barang haram. Ia mencoba mengiskhlaskannya, memperingatkan orangtuanya, memberontak, dan terus mencoba menyatakan sikap.

"Dalam berdagang," tulisnya, "Bapak saya selalu mencampurkan antara barang yang bagus dan yang jelek, sementara ia memberi harga seolah-olah semuanya adalah barang bagus, dan pembeli tidak diberi tahu bahwa barang itu campuran. Jelas dalam hal ini mengandung penipuan.

"Sebagai putrinya, saya telah berusaha menasihati Bapak, juga berdoa kepada Tuhan agar beliau menghentikan kecurangan itu. Namun, Bapak terus saja, padahal makan, minum, dan biaya hidup saya berasal dari kecurangan ini. Saya jadi merasa bahwa saya juga berdosa. Bahwa seluruh perbuatan baik saya, shalat, puasa, dan amal-amal saya tidak ada gunanya. Darah daging saya ini riba, haram. . . "



Memang. Para penjual bensin eceran di kios-kios pinggir jalan saja pun selalu memasang papan "Jual Bensin Murni". Padahal, orang yang paling bodoh pun bisa mengerti bahwa si penjual tidak mungkin mengebor minyak sendiri dan langsung dijual dalam keadaan murni. Bahwa ia harus mengambil laba dari bensin yang dibelinya di pom bensin, dan satu-satunya kemungkinan untuk memperoleh laba adalah dengan mencampurkan minyak tanah.

Penipuan sudah sangat telanjang. Adapun pada mekanisme perdagangan yang samar dan bisa ditutupi, yang terjadi mungkin "maha" penipuan. Dan, kita semua sudah imun. Sudah merasa biasa dan normal. Di bawah sadar yang kita bawa sehari-hari dalam berdagang, hal itu "bukan dosa" lagi.

Sesunggahnya, dalam kosmologi hidup ini ada yang namanya gelombang, vibrasi, getaran, atau resonansi. Kalau istri kita hamil, kitaa rajin-rajin membisiki perutnya dengan kalimah tahyyibah serta doa-doa yang bijak buat anak kita. Itu artinya kita menciptakan atmosfer batin yang akan merupakan landasan kemakhlukan dan kepribadiannya kelak. Bukankah Allah sendiri memperkenankan dan meminjamkan kesanggupan semacam ini dengan pernyataan melalui Rasul-Nya bahwa para orangtualah yang memerahkan atau menghijaukan anak-anaknya?

Maka kita putihkan atau kita kuningkan putra kita tidak hanya melalui gerbang kesadaran akalnya, tetapi juga melalui seribu pintu biologis dan spiritual lainnya. Kita lantunkan doa dan harapan melalui pori-pori kulit istri kita dengan harapan pantulan kun fayakun-Nya akan berlaku bagi anak-anak kita sesuai dengan pemenuhannya atas dambaan kita.

Bagi bayi, pendidikan tahap awal adalah spiritualitas, selanjutnya baru intelektual-rasional, pedagogis maupun andragogis. Bagi orang dewasa dan tua, pendidikan tahap pertama haruslah dialog intelektual, strategi rayuan empiris, baru kemudian mendayagunakan gelombang spiritual. Jadi, mahasiswi kita di Malang itu tak boleh berhenti melakukan ketiga-tiganya.

Rumah yang sehari-harinya diisi oleh suara mengaji firman berbeda getaran dan roso-nya dengan rumah yang dididik oleh suara anjing atau musik-musik serba-duniawi. Demikian juga apabila di lubang telinga seseorang yang berbuat dosa kita kirimkan vibrasi firman Allah terus-menerus, para malaikat dengan sendirinya akan bertugas untuk melaksanakan efek logisnya menuju perbaikan.

Di Jakarta saya sering iseng-iseng omong kepada teman-teman bahwa setiap hirupan napas saya di kota metropolitan ini merupakan defisit  spiritual-kosmologi. Kenapa?

Kalau di hati seseorang tergetar suatu niat jahat, misalnya untuk menipu, merampok, atau menyembah kefanaan dunia, sel-sel udara yang ia isap akan berbeda dengan yang ia embuskan. Udara yang diembuskan sudah mengandung muatan gelombang negatif tertentu. Apalagi, jika gelombang ini bukan sekedar berupa iktikad di dalam hati, tetapi telah merupakan perbuatan-perbuatan nyata.

Dan, akan lebih parah lagi apabila pekerjaan sehari-hari udara yang dianugerahkan oleh Allah ini diisi oleh sistem-sistem dan mekanisme ketidakadilan, penindasan, atau kebobrokan. Maka, udara yang kita isap sangat potensial untuk menularkannya kepada kita melalui muatan-muatan, getaran, dan resonansinya. Sesudah melewati jarak waktu tertentu, kita akan dengan sendirinya tuning in kecenderungan-kecenderungan negatif tersebut.

Di manakah ada tersisa tempat yang tidak membuat kita tunning in dosa-dosa, riba-riba, haram-haram? Setiap saat orang-orang di sekitar kita berkata: "Mencari uang haram saja susah, apalagi yang halal!"

Allah tidak menuntut kita putih bersih tatkala kita berada di tengah lautan yang kotor, kumuh, dan busuk airnya. Juga di tengah arus yang kuat, kita tidak dituntut untuk mampu melawannya, sebab untuk tegak bertahan saja pun sudah amat terpuji. Kalau kita shalat ratusan rakaat sehari karena kita anggota masyarakat Negeri Madinah yang baldatun thayyibatun wa-rabbun ghafur pada zaman Rasulullah, itu wajar.

Akan tetapi, kalau kita shalat lima waktu kita bisa lengkap plus wirid sekian jam saja sambil jalan-jalan ditengah peradaban maksiat abad 20, itu sudah luar biasa. Atau, uang kita hanya seribu perak, kita nafkahkan sembilan ratus perak: Itu berpahala lebih besar dibanding tetangga yang menafkahkan sepuluh perak dari sepuluh juta perak uangnya.

Kalau burung-burung bisa terbang, itu normal. Namun kalau tikus melayang-layang di udara, itu luar biasa namanya. Maka, mahasiswa kita di kota dingin itu tak perlu meratap, melainkan mensyukuri upaya-upaya perbaikannya yang tak mengenal kata stop.
(halaman 53-57)

Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Bentang
Cetakan Pertama 2015
Dipublikasikan : Banawa Maiyah

You Might Also Like:

Buka Komentar