Skip to main content
Banawa Maiyah

follow us

Like Facebook | Follow Instagram

Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki


TUHAN DISAINGI MANUSIA

KEGELAPAN sosial pada hakikatnya bersifat horizontal. Ada juga yang bertikai soal kegelapan spiritual, kegelapan teologis.

Terlanjur bikin setting negara ber-Tuhan, tapi wacana tetang Tuhan dan ajarannya hanya dispekulasikan. Tuhan bahkan dikarang atau diciptakan sendiri.

Tuhan harus "ngikut" macam-macam pendapat manusia tentang diriNya. Tuhan sendiri tidak pernah ditanyai. Seakan-akan manusia menemukan Tuhan melalui riset akademis dan investigasi ilmiah. Seakan-akan manusia sanggup mengenali Tuhan, malaikat, sorga, neraka, konsep dosa dan pahala, setan, jin, malaikat, dan lain sebagainya, melalui upaya prestatif manusia sendiri.

Di ujung seluruh kenyataan itu, benturan yang dialami manusia adalah soal "kebahagiaan yang sejati". "Persyaratan" untuk bahagia tidak secara mendasar dipenuhi. Tidak berlangsung pendidikan sejarah yang mendorng dan menolong manusia untuk menemukan dirinya dalam koordinat kenyataan hidup dimana ia terletak.
Manusia juga menjadi tidak memiliki peluang untuk memahami dan mengadaptasikan dirinya pada "syariat sosial", sehingga ia temukan pula pola "manajemen" dirinya secara baik.

Istilah "syariat sosial" sengaja dipakai untuk memudahkan asosiasi pembedaan antara tata nilai horizontal dengan tata nilai vertikal, serta komprehensi dan interdependensi anatara keduanya. Untuk mencapai kebahagiaan, umumnya orang mengandalkan tiga-ta: harta, tahta, dan wanita.

Masalahnya adalah ada perbedaan serius antara tolok ukur horizontal mengenai tiga hal itu dengan tolok ukur vertikal.

Apa yang dalam syariat horizontal disebut menguntungkan, menurut tolok ukur vertikal merugikan. Melakukan shalat itu tidak produktif, wasting time dan ngoyoworo, menurut mata pandang horizontal, kecuali kalau shalat merupakan syarat agar tender kita menang.

Mendapatkan uang banyak dan memasukkannya ke kantong, menurut tolok ukur horizontal ada keuntungan, yang berakibat kegembiraan. Tetapi mengeluarkan uang dari kantong tanpa disertai janji laba horizontal apa-apa, menurut syariat vertikal, adalah sebuah keberuntungan, kelegaan dan kegembiraan.

Itu sekedar contoh sederhana. Manusia tampaknya cenderung mempersaingkan dirinya dengan Tuhan dalam konsep, wacana, dan manifestasi tentang kebahagiaan. Dan Tuhan tampaknya cool-cool saja membiarkan diriNya disaingi.

Manusia menempuh, mengejar, merampas, segala sesuatu yang ia anggap sebagai "onderdil" kebahagiaan, padahal Tuhan berkata sebaliknya. Kelak manusia terjebak dan frustasi sendiri di masa tuanya, kemudian membungkuk-bungkuk minta ampun, dan Tuhan menyediakan lima sifat pengampuan pula. Hanya Abu Nawas yang sanggup "mengalahkan" Tuhan soal harta dan kebahagiaan. Ia teriak-teriak bahwa ia lebih kaya dari Tuhan. Setelah ditangkap polisi ia berargumentasi: "Menurut Tuhan harta yang mahal adalah anak yang saleh. Dan saya punya 12 anak yang saleh salehah, sedangkan Tuhan tak punya satu pun".
(halaman 153-155)

Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Kompas
Cetakan 2016
Dipublikasikan : Banawa Maiyah

You Might Also Like:

Buka Komentar