Skip to main content
Banawa Maiyah

follow us

Like Facebook | Follow Instagram

OPLeS

Asuransi Nasib Rakyat


Di awal tahun 70-an, Ibu saya pernah terkena trauma. Ia kaget dan ketakutan setengah mati kepada setiap tamu, bahkan kepada setiap bunyi langkah kaki atau pintu rumahnya diketuk.

Masalahnya sederhana: kami punya hutang kepada Bank Pasar Kecamantan, sementara kemampuan ekonomi dari hari ke hari semakin menurun. Maka Ibu saya selalu merasa bahwa setiap orang yang datang pastilah akan menagih hutang.

Ayah saya menang terkenal royal hidupnya. Terlalu suka berfoya-foya dengan orang banyak. Misalnya, uang yang susah payah ia cari, malah dipakai untuk membangun gedung sekolah, membuka lapangan sepak bola, badminton, masjid, dan lain-lain. Belum lagi segala macam keperluan olahraga dan kesenian pemuda-pemudi dusun kami. Terlebih-lebih lagi, setiap datang saat peringatan Hari Besar Islam, ia mengumpulkan orang sekampung, disembelihkan kambing-kambing dan makan beramai-ramai.

Bagi orang yang mendalami arti hidup, karier dan kesejahteraan, tindakan Ayah saya itu terasa betapa bodohnya. Ia banting tulang memeras keringat bekerja, tetapi hasilnya diperuntukkan tidak untuk dirinya sendiri maupun keluarganya. Kalau ketahuan manusia modern, ia pasti digoblok-goblokan. Wong mestinya merampas milik tetangga demi kesejahteraan keluarga sendiri, kok ini malah sebaliknya.

Ada contoh lain yang lebih tidak produktif. Misalnya, anak-anak yatim ia tampung, ia sekolahkan, ia kawinkan, ia bikinkan rumah lengkap dengan segala perabotnya, meskipun sederhana. Berulang-kali ia mantu anak-anak yatim itu jauh sebelum mengawinkan anak-anaknya sendiri.

Kemudian guru-guru dipanggil dari berbagai penjuru. Ia sediakan kamar-kamar khusus, lengkap dengan makan-minum dan upah, plus bonus hadiah kalau Hari Raya atau kapan saja Ayah saya kambuh kegoblokannya.

Hidup ini berekonomi. Berekonomi itu mengeksplor modal serendah-rendahnya untuk memperoleh laba setinggi-tingginya. Tetapi Ayah saya memilih prinsip yang sama sekali terbalik. Setiap kali ia membeli beras berkarung-karung: mestinya kan dijual atau diapakan untuk investasi masa depan. Lha kok malah dimasak untuk memberi makan sekian puluh orang yang bergerombol dirumahnya setiap hari.

Istri Ayah saya adalah masyarakat: istri yang amat sangat disayangi. Adapun istrinya sendiri, yakni Ibu saya, menjadi Ibu kami bersama-sama. Ibu saya adalah Ibu kami semua, Ibu saudara-saudara saya, Ibu Ayah saya, Ibu penduduk sedesa.

Pada suatu malam saya bertanya kepada Allah--beberapa minggu sebelum hari dimana ternyata ia meninggalkan kami selama-lamanya--kenapa ia lakukan itu.

Lama sekali ia tak menjawab. Tampaknya bukan karena Ayah saya memang seorang pendiam, melainkan karena ia memang merasa kesulitan menjawab pertanyaan saya. Tapi akhirnya, menjelang akhir obrolan kami, sebelum berangkat tidur, Ayah berbisik: "Gini lho Nun, nasib orang banyak itu tidak ada asuransinya. Lurah dan Pamong tidak dijadikan pejabat untuk menjamin bahwa mereka tidak akan kelaparan. Terlebih-lebih lagi jaminan untuk pandai, untuk baik, dan lain-lain. Hanya Tuhan saja yang pasti menjamin. Jadi saya merasa malu kepada Tuhan, meskipun yang bisa saya lakukan ya hanya begitu-begitu itu saja..."

Kelak saya menyadari: Ayah saya hanya punya metode filantropis untuk menerapkan kontribusi sosialnya. Kelihatannya Ibu saya banyak belajar dari itu sehingga kemudian ia kembangkan metode lain yang bukan memberi barang 'matang', melainkan menumbuhkan kemampuan-kemampuan.

Kemudian tiba-tiba Ayah saya meninggal, sesudah beberapa tahun kemampuan foya-foya sosialnya menurun, sesudah hutang kami---demi kegembiran kolektif itu---menumpuk sangat tinggi. Dan itulah yang perlahan-lahan akhirnya Ibu saya melakukan sejumlah upaya ekonomi yang membawanya traumatik dan ketakutan ditagih hutang.

Namun Anda tahu, yang namanya rasa takut, pada tingkat akumulasi tertentu, melahirkan keberanian yang lebih dari sebelumnya dimiliki seseorang. Sebagaimana Anda justru menjadi tertawa dipuncak kesedihan.

Yang membuat Ibu saya 'marah dan berani' bukanlah karena kami segera akan mampu membayar hutang, melainkan karena cara orang-orang Bank itu bersikap kepadanya. Pasti. Pasti kami akan bayar hutang itu, tetapi itu tidak harus kami lakukan dengan mempiutangkan harga diri kami. Kami orang kecil, dan justru karena itu kami tidak punya tempat yang lebih rendah lagi untuk direndah-rendahkan oleh siapa pun saja.

Toh kami hutang itu sekedar untuk memelihara peredaran darah dan mempertahankan nyawa. Bukan untuk suatu konglomerasi proyek-proyek mercusuar yang gegap-gempita namun ternyata keropos. Itu pun karena. menurut Ayah saya, nasib kami tidak dijamin oleh Negara, meskipun cara Negara memlototi airmuka kami seolah-olah ia adalah Nabi Kesejahteraan yang selalu mencemaskan kalau-kalau kami mengalami kelaparan.

Negara tidak pernah bertanya kepada kami: "Apakah engkau punya beras untuk makan anak-anakmu? Punya uang untuk menyekolahkan anak-anakmu?" Negara hanya meminta, mengatur memerintah, memarahi, mencurigai. Kalau kami ingat Negara, yang muncul bukan rasa terlindungi, melainkan rasa terancam. Kepada Pamong-Pamong kami bosan, kepada Pak Polisi kami takut, dan Pak Tentara kami ngeri.

Oleh karena itu, di pertengahan tahun 1993, kami membayangkan seberapa merasa terancamkan para konglomerat yang nunggak kredit dan menggangu lancarnya peredaran darah negeri ini? Bukan omset ekonomi mereka bak samudera yang setiap cipratannya sepadan dengan seratus kepala dan kehidupan kami? Bukankah dengan demikian omset gangguan mereka terhadap kelancaran peredaran darah rakyat negeri ini tak terhitung oleh otak kami yang dipertahankan bodoh dari hari ke hari?

Mereka dicekal? Pintu-pintu boarding ditutup rapat-rapat supaya mereka tidak melarikan diri?

Samalah nasib mereka dengan kami-kami orang kecil, yang tanpa dicekal pun tak akan pernah bisa bepergian ke luar negeri.

Apakah ada jaring-jaring hukum yang memungkinan moral kebangsaan ditegakkan? Hendak diapakan para pemacet moral dan darah rakyat itu?

Entahlah. Dikutuk saja pun belum.
(halaman 91-94)

Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Mizan
Cetakan Pertama 1995
Dipublikasikan : Banawa Maiyah

You Might Also Like:

Buka Komentar