Skip to main content
Banawa Maiyah

follow us

Like Facebook | Follow Instagram

PEMIMPIN YANG "TUHAN"


PRIBUMI

Saya, kok, cemas melihat reklamasi, Meikarta, serta banyak program dan kontrak-kontrak sejenis itu. Apa kita yakin hari esok pasti bisa kita rancang, laksanakan, dan dikendalikan?

Tentu saja kecemasan saya ini tidak rasional. Karena yang saya cemaskan itu bagian dari kecemerlangan prestasi pemerinatahan yang menurut lembaga-lembaga survei memuaskan 67% rakyat. Bahkan, banyak yang meyakini Indonesia kali ini adalah yang terbaik dibanding Indonesia sebelumnya.

Walaupun begitu, secara pribadi saya tetap siap payung sebelum hujan. Andaikan kita punya imperium raksasa menguasai lima benua, apa seluruh kemungkinan bisa diidentifikasi, disimulasi, dan di-handle? Apa setiap pagi tiba, pasti tidak ada yang kita tidak duga? Apa kehidupan, ruang, dan waktu ini bisa kita pastikan selalu dalam kontrol kekuasaan kita? Apa semua hal dalam perjalanan sejarah bisa benar-benar kita ketahui dan kuasai? Apakah Indonesia, manusia, kehidupan dan nasib, begitu remehnya di telapak tangan raksasa dan naga, meskipun kira yang menjadi kuku dan cakarnya?

Ini bukan soal pribumi, Arti pribumi tidak terletak pada kata-katanya, tetapi pada ketetapan peletakannya berdasarkan konteks dan nuasanya.

Pribumi itu bukan siapa kita, apa warna kulit kita, apa agama kita. Pribumi itu bukan personalitas, bukan pula identitas. Pribumi itu komitmen pada rakyat karena kita sendiri adalah rakyat, bukan yang berkuasa atas rakyat.

Pribumi itu bukan apa jabatan atau profesi kita, di mana alamat kita. Kalau kita memijakan sepatu di atas kepala rakyat, kalau kita mengambil untung sendiri tidak dalam kebersamaan dengan keuntungan semua rakyat, berarti kita bukan rakyat. Karena bukan rakyat, kita adalah pengisap, penindas, pelintah.

Kalau kita "menang ngasorake", "sukses dengan menyusahkan", atau "beruntung dengan merugikan", kitaa bukan rakyat. Pribumi itu kesetiaan pada rakyat.

Pribumi itu bukan mulut kita mengucapkan Pancasila atau Bhinneka Tunggal Ika, melainkan kita tidak melakukan apa pun yang membuat hati rakyat kecil diam-diam tidak ikhlas, ngersulo, dan memendam sekam sejarah.

Menjadi pribumi itu menyatu dengan rakyat kecil dan saling mencintai dalam kesatuan kita dengan mereka. 1-Mencintai. 2-Rakyat. 3-Kecil.

Cinta itu kondisi batin. Mencintai itu tindakan, pejuangan, keteguhan, dan kesetiaan, Rakyat itu ra'iyah. Ra'iyat. Kepemimpinan. Pemegang kedaulatan sejati. Kecil itu lemah karena sudah melimpahkan kekuasaannya dan mewakilkan kedaulatannya hingga tak lagi berkaki dan bertangan. Kita mengabdi pada rakyat kecil, kecuali kita bukan manusia.

Saya kok, cemas melihat reklamasi, Meikarta, seta banyak program dan kontrak-kontrak sejenis itu. Apa kita yakin pasti hari esok bisa kita rancang, laksanakan, dan kendalikan? Saya khawatir nanti ada suara teriakan keras "shoihatan wahidatan" yang "min haitsu la yahtasib". Untung saya tinggal di luar itu semua.
(halaman 346-348)

Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Bentang
Cetakan Pertama 2018
Dipublikasikan : Banawa Maiyah


You Might Also Like:

Buka Komentar