Skip to main content
Banawa Maiyah

follow us

Like Facebook | Follow Instagram

KAFIR liberal


Prasangka Tentang Hidup dan Maut

Pada suatu hari bersama Kiai Kanjeng dari London, Aberdeen dan Berlin, kami masuk kota Roma, tepat ketika Paus Johannes Paulus II jatuh gering.

Saat-saat terakhir Paus sangat mengharukan. Masyarakat menyaksikan bagaimana Paus Johannes Paulus II berjuang sangat keras untuk bisa mengeluarkan suara dari tenggorokannya dan dari mulutnya. Dari jendela tinggi di Gereja Vatikan itu beliau menggerakan-gerakan kedua tangannya sehingga ujung jari jemarina setinggi kepala. Gerakan tangan itu dimaksudkan untuk mendorong dan mengerahkan kekuatan agar beliau bisa bicara pada umatnya.

Tetapi gagal. Berulang kali beliau mengupayakan bisa keluar satu dua kata, namun tak berhasil. Akhirnya beliau menggerakkan simbol salib dan bahasa gerak itu jauh lebih sampai menembus hati umatnya dibanding kata apapun apabila beliau sanggup mengucapkannya. Kemudian beliau dirawat lebih intensif, dan itulah proses panjang menuju naza', berhijrah ke alam kehidupan yang sejati, yang abadi, yang tidak ditipu dan dikamuflase oleh halusinasi-halusinasi materialisme.

Saya tidak akan meneruskan tulisan ini dengan pembicaraan tentang maut atau kematian. Karena hampir semua manusia menyangka kematian adalah benar-benar kematian, sambil terlalu mantap berpikir bahwa kehidupan ini adalah sungguh-sungguh kehidupan. Beliau Paus Johannes Paulus II kini sudah mengerti persis yang mana sesungguhnya kematian dan yang mana sebenarnya kehidupan. Kita belum. Kita masih kerasan beputar-putar di selubung asap prasangka tentang hidup dan maut. Dan demi prasangka itu kita rela berbuat bodoh: mencuri, menjegal, membenci, dengki dan iri seumur hidup dikurangi beberapa menit menjelang nyawa melayang.


(halaman 29-30)

Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : PROGRESS
Cetakan 2005
Dipublikasikan : Banawa Maiyah

You Might Also Like:

Buka Komentar