Skip to main content
Banawa Maiyah

follow us

Like Facebook | Follow Instagram

Tidak. Jibril Tidak Pensiun


Falsun! Fals! Palsu!

Kalau sudah tua, di usia senja, di ambang kematian, setiap manusia akan dipaksa untuk bertabrakan dengan kenyataan hidup bahwa yang ia cari adalah yang sejati.

Siapapun ia. Apapun status sosialnya. Tinggi atau rendah pangkatnya. Gagah atau tidak eksistensi budayanya. Sehebat apapun profesi dan reputasinya. Semua akan dipaksa masuk dan berpikir untuk memilahkan anatara yang sejati dengan yang palsu.

Yang palsu terpaksa ditinggalkan di dunia karena para pengusung keranda kematiannya tidak bersedia mengakut berton-ton kepalsuan yang dihimpun oleh almarhum sepanjang hidungnya, Dihimpun dengan segala macam cara. Dengan kerja keras. Dengan monopoli. Dengan maling otoritas. Dengan ndompleng kekuasaan. Dengan merampok milik tetangganya yang berpuluh-puluh juta jumlahnya.

Yang sejati akan ia bawa ke alam sejati. Tidak melalui lubang kubur, sebab kuburann hanya persinggahan dimana biologi manusia pupus. "Diri sejati" manusia tetap "menemani"  biologinya hingga sirna total, namun ia bersikap meneruskan perjalanan berikutnya ke terminal-terminal keabadian.

Proses pemilahan antara yang sejati dengan yang palsu itu mirip dengan transformasi hakekat makanan dari luar mulut sampai ke sel-sel darah. Ketika seseorang hendak makan, yang dipersiapkan adalah pecel, gethuk, semangka dan wedang sekoteng. Tapi nanti usus memeras semua jenis makanan itu sehingga kehilangan "status budayanya" sebagai pecel dan gethuk -menjadi saripati. Menjadi esensi. Menjadi unsur paling inti.

Perubahan gethuk menjadi unsur inti itu paralel dengan perubahan dari primordialitas ke universalitas. Dari bentukan ke kristal. Dari syariat ke hakekat. Dari idiom budaya ke ruh. Dari "manusia" ke "tuhan". Dari makhluk ke khalik.

Tetapi apakah gerangan yang palsu dan apakah gerangan yang sejati? Seberapa jauh kapasitas akal dan indera atau meta-akal dan meta-indra kita mungkin memahaminya, atau sekurang-kurangnya mencoba merumuskannya?

Kesejatian dan - dengan demikian juga - kepalsuan adalah bulatan yang sudut dan titik-titiknya tak terhingga. Tapi barangkali kita bisa meicipi sejumlah sudut.

Yang sejati adalah yang sungguh-sungguh. Yang palsu adalah yang seakan-akan.

Kita bisa ambil salah satu "rumus dasar"-nya: kesejatian dan kepalsuan dalam secara waktu, serta kesejatian dan kepalsuan dalam atau secara

***
Salah satu indikator kesejatian, secara waktu, adalah keabadian. Maka indiktor kepalsuan tentu adalah kesementaraan. Oleh karena itu yang tak pernah berubah pada kehidupan sehari-hari setiap manusia dan semua masyarakat - kapan pun dan dimana pun - adalah kecenderungannya untuk mencari, membuat dan menyelenggarakan sesuatu yang awet, yang langgeng.

Oleh karena itu pula standar kualifikasi karya kesenian, umpamanya adalah ujian lintas waktu. Lukisan, lagu, puisi, selalu berhadapan dengan pertanyaan: apakah ia langgeng atau tidak. Apakah ia berumur beberapa bulan, melampaui usia penciptanya. Puncak segala penilaian tentang karya seni selalu bermuara pada pertanyaan: apakah ia karya abadi atau buka bukan.

Ketika orang menggengam sesuatu yang jelas bersifat amat sementara - katakanlah misalnya motor dan cicin emas - ia tetap saja berorientasi agar barangnya itu bisa ada di genggamannya selama mungkin. Kalau Anda diberi jatah berumur 200 tahun, Anda akan senang sekali. Hidup seribu tahun lagi juga mau. Pemimpin ingin menjadi pemimpin kalau bisa seumur hidup. Para binatang film ingin laku sampai usia tuanya. Zainuddin MZ tidak ingin hanya menjadi meteor: kalau bisa popularitasnya sama dengan abadinya bintang-bintang dalam perspektif waktu yang dijangkau oleh manusia. Soal apa saja - oleh manusia - senantiasa diarahkan oleh manusia untuk memiliki kecenderungan ke Keabadian.

Sayang sekali, sudah jelas-jelas bahawa yang dicari oleh manusia adalah keabadian, tapi mereka selalu lebih berpihak kepada barangnya dibanding kepada keabadiannya. Bermilyar-milyar manusia memilih berjalan memanggul barang-barang yang tidak abadi di pundaknya. Maunya mereka mengangkat itu semua ke jalanan keabadian. Padahal jangankan barang-barang, kekayaan dan pangkat, sedangkan tubuhnya sendiri tak kuat untuk mengikuti perjalanan manusia menuju Keabadian.

Kesejatian dan kepalsuan dalam dan secara ruang - atau yang indikatornya tertemukan dalam ruang - barangkali bisa kita pilah melalui lapis budaya, lapis psike dan lapis ruh.

Benda-benda, barang-barang, materi, fisik - yang merupakan lebih 75 persen penghuni kehidupan dan kesadaran manusia - adalah contoh soal paling elementer dari kesementaraan. Artinya, ia sangat indikatif terhadap kepalsuan.

Sub-lapis budaya yang lain adalah posisi dan format kultur dimana manusia meletakkan dan mengeksistensikan diri : jabatan, status sosial, pangkat, profesi dan lain-lain. Ini juga sangat indikatif terhadap kesementaraan dan kepalsuan. Artinya, lapis dan sub-lapis ini hanya "pakaian" yang berakhir amoh. Hanya "sandiwara" yang pasti akan tiba pada endingnya. Kalau manusia memusatkan dan menumpahkan diri sepenuhnya pada lapis dan sub-lapis ini, ia harus siap amoh dan ended, Dan kalau terjadi, ia menjadi tahu bahwa itu palsu.

Lapis berikutnya adalah psike. Indikasinya terhadap kesementaraan dan kepalsuan juga tidak kecil. Kalau seseorang punya kehendak untuk membeli sesuatu di Toko Serba Ada, sama sekali bisa dijamin bahwa itu kehendak orisinal dirinya. Lebih mungkin mereka melakukan itu sebagai efek belaka dari kehendak besar yang mengurung, menjebak dan mengendalikan mereka. Kehendak besar itu mungkin kehendak sistem, kehendak para industriawan, pemilik modal, kapitalis, iklan-iklan serta pengaruh-pengaruh kebudayaan yang direkayasa. Oleh karena itu, hakekatnya palsu.

Kalau seseorang ingin menjadi Insinyur, Dokter, Penyair Kepala Negara atau Kasubit dan Dandim - besar kemungkinan itu juga bukan kehendak orisinalnya, melainkan akibat dari proses bentukan-bentukan budaya dari luar dirinya. Mungkin memang ada semacam naluri atau bakat murni yang menyahami kehendak-kehendak itu, tapi pada zaman dan sistem dimana otoritas keperibadian manusia amat tunduk dibawah kemaun-kemauan sistem besar - sangat gampang diduga bahwa kapasitas kepalsuan dalam kehendak mereka juga tidak kecil.

Orang bercita-cita, berangkat ke jalan protokol, menjadi ini itu, membeli ini itu - dalam kedudukan sebagai bangkai. Artinya, bukan "diri"-nya yang sesungguhnya menggerakanya.

"Diri sejati" terletak pada lapis yang jauh lebih dalam dan besar kemungkinan kebanyakan manusia sendiri tak mengenalnya. Kurikulum pendidikan tak mengajarkannya. Para pemimpin agama juga hanya membariskan umatnya dalam syariat, tidak memasuki hakekat. Sehinnga pengenalan manusia terhadap diri sejatinya sangat tidak bisa dijamin.

Ilmu pengetahuan hanya secara samar-samar menyebut unsur seperti jiwa, sukam, ruh dan lain sebagainya. Unsur-unsur itu merupakan "manifestasi Allah", semacam dzatullah atau "tiupan ruh" (-Nya sendiri) yang - pasti dan mutlak - bersifat abadi dan sejati. Dalam perjalanan kebudayaan dan peradaban ummat manusia, unsur-unsur sejati itu terbungkus, ketelingsut dan tersembunyi di balik lubuk kesadaran manusia sendiri. Namun ada saat-saat dimana mereka mengaktualisasikan dirinya.

Kenapa para era tertentu masyarakat menujukan konversi dari - misalnya - sekularitas ke religiusitas, dari kekeringan rohani ke gejala-gejala keilahian melalui pengajian, tema film, sastra atau ekspresi budaya lainnya: itu adalah saat-saat dimana sukam, jiwa dan ruh "memberontak" karena sudah sangat lama tidak diberi "makan" oleh manusia penyandangnya.

Manusia bersembahyang, berpuasa, beribadah, berbuat baik, memperjuangkan keadilan, kesederajatan dan kebenaran, menyelenggarakan cinta, dan seterusnya - itu semua merupakan "makanan" bagi dzatullah yang "antara lain" menempatkan diri didalam jiwa manusia sendiri. Maka tak heran kalau pada banyak era sejarah manusia seringkali terdapat gejala rohaniah yang sebenarnya sama sekali bertentangan dengan rekayasa politik peradaban mereka sendiri.

Kepalsuan berumur pendek. Kepalsuan ingin selalu menghuni dunia selama-lamanya, maka ia berganti dari kepalsuan ke kepalsuan berikutnya. Tapi karena keabadian itu abadi, ia akan senantiasa menanggapinya dan di ujung-ujungnya akan menunjukan otoritas mutlak dan abadinya.

Wanita-wanita pakai make-up, menjalankan operasi plastik, membesarkan payudara, menghasilkan kulit, memudakan tua, menipu masyarakat dengan seribu jenis mode pakaian. itu adalah kepalsuan sehari-sehari di sekitar kita.

Perilaku sosial, politik, budaya, hukum atau kesehariaan, merupakan, tempat, dimana manusia mementaskan kepalsuan-kepalsuan, kesementaraan-kesementaraan. Dunia politik, misalnya, adalah jenis lain dari budaya kosmetika, diplomasi dan "keharusan untuk munafik". Dunia industri informasi adalah jenis kepalsuan yang lain, yang juga canggih karena "yang dituhankan" adalah hukum pasar, man makes news, gosip dan isu.

Betapa tragisnya kalau kita bersikap "polos" dalam melihat itu semua. Tiap hari mata kita dididik untuk lebih banyak bergaul dengan kepalsuan. Tiap saat telinga kita dibiasakan untuk lebih banyak mendengarkan kesementaraan. Tiap saat indera kita, kesadaran kita dan akal kita, ditradisikan untuk lebih banyak berurusan dengan yang tidak sejati.

Kita tidak terlatih untuk jernih. Dan karena hampir seluruh bangunan budaya kita adalah bangunan ketidakjernihan (apakah seorang Bupati pasti orang nomor satu se-Kabupaten? Apakah penyanyi terkenal pasti bakat nyanyinya tertinggi? Dst), maka kita cenderung jengkel, marah dan merasa terganggu oleh ungkupan-ungkapan kejernihan.

Pantas tiap hari kita harus berkali-kali melakukan wudlu dan shalat untuk menjernihkan dan menyejatikan diri kembali. (hlm 42-48)

Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : PROGRESS
Cetakan Pertama 2007
Dipublikasikan : Banawa Maiyah 

You Might Also Like:

Buka Komentar