Skip to main content
Banawa Maiyah

follow us

Like Facebook | Follow Instagram

Metiyem


Emha Ainun Nadjib

seolah-olah ia membisiki telinga hati anak-anak muda itu:
"Berjalan kakilah bersamaku, karena kalian akan harus memasuki dunia modern yang membuat kalian akan tidak punya pengalaman rohani berjalan kaki. Kalian akan diangkut oleh mesin-mesin yang membuat kaki kalian tidak lagi berguna semaksimal tatkala Tuhan merancang kaki kalian di awal mula penciptaan".

Menjadilah Wali Pengembara

Kalau ada yang bertanya "Siapa itu Umbu?", saya selalu terkapar lagi di lantai dengan beberapa batu menggerunjal: "siapa" dilacak melalui "identitas", kemudian dicari melalui "jati diri", untuk diperas, disarikan, dipadatkan dan diisikan ke lembar "curriculum vitae" yang datar, teknis dan sangat materiil.

Kalau lembar CV itu disodorkan kepada Umbu, yang bisa ia bisikan hanya nama, tanggal dan tempat lahir. Item "karya", sedemikan kaya raya nilai dan nuansa, dituangkan menjadi beberapa baris di satu lembar kertas.

Peradaban abad 20-21 yang dahsyat memaparkan kepada kita "siapa" adalah "identitas", "identitas" adalah "jati diri", "jati diri" adalah "profesi", "profesi" adalah "bidang kerja", "bidang kerja" adalah "fungsi produksi", "fungsi produksi" adalah "kadar persembahan kepada industri", "industri" adalah "kapitalisme global", "kapitalisme global" adalah "materialisme". "Materialisme" adalah "ultra berhala". "Ultra berhala" adalah yang raksasa yang secara bertahap dan strategis mencengkeram Malioboro Yogyakarta, yang Umbu menghindarinya, masuk ke lorong dan berbaring di bilik sunyi yang ia rahasiakan.

Mungkin batin Umbu menggeremang: Dunia menanyakan "jati diri" saya, menagih "yang paling sejati" dari hidup saya, tetapi uang ia mau menerima hanya "yang tidak sejati" dari saya.

Hampir setengah abad silam ia tinggal di sebuah kamar remang-remang di ujung lorong bawah kantor Mingguan Pelopor Yogya Jalan Malioboro utara Yogyakarta. Tidak sebagaimana lazimnya mahasiswa atau anak muda kost, kamar itu misterius dan tidak dibiarkan mudah dilihat oleh siapa pun yang di sekitarnya atau melewatinya. Tidak ada kabar bahwa pernah ada satu orang pun pernah dipersilahkan memasuki kamar itu.

Ia seakan sedang menerapkan prinsip "aurat", sesuatu yang harus ditutupi di antara faktor-faktor lain yang diperlihatkan dari diri seseorang. Tapi tampaknya seluruh "diri" penghuni kamar misterius itu adalah "aurat". Orang mengenal dia adalah Umbu Landu Paranggi, kabarnya ia seorang Penyair atau Seniman. Tetapi pastilah yang disembunyikan adalah sesuatu yang lebih penting dibanding yang diperlihatkan. Lebih penting, lebih inti, lebih sejati. Yang disebut Umbu mestinya hanyalah sebuah inisial teknis untuk keperluan interaksi sosial budaya, tetapi yang ia sembunyikan bukanlah Umbu, atau Umbu "yang sebenarnya", bukan Umbu yang "budaya".

Mungkin ia pelaku Malioboro. "Malio" dalam bahasa jawa adalah kata perintah atau anjuran, sebagaimana "marungo" yang berarti "buka warunglah", atau "mayango": menjadi wayanglah. Terdapat pola perubahan "w" menjadi "m" pada posisi tertentu. "Malio" berarti "menjadilah Wali", ang "boro", "ngumboro": mengembara.

Wali adalah sahabat karib. Atau wakil, representator, manifestor. Waliyullah adalah sabahat karib Allah yang Ia perjalankan mewakiliNya menempuh perjalanan, menyelusuri pengembaraan, dengan seluruh tatanan nilai ada adonan pengalaman, untuk menuju atau kembali atau menemukan-Nya kembali. Suatu perjalan melingkar, dari Ia menuju Ia. Karena Ia adalah titik awal sekaligus titik akhir, maka garis pengembaraannya melingkar atau membulat.

Malioboro adalah suatu tahap yang ditempuh oleh setiap orang untuk mengembarai kehidupan. Tahap sebelumnya adalah Margo Utomo: seseorang mencari, menemukan dan memilih wilayah keutamaan jalan hidup. Idiom modernnya: memilih studi fakultatifnya.

Tahap sesudah Malioboro adalah pencapai Margo Mulyo. Selama Malioboro, seseorang melatih, mensimulasi, mengeksperimentsai, mengalami dan menguji pilihan keutamaanya, sampai akhirnya ia naik ke tahap kemuliaan. Dari era fakultatif; ia mengembara hingga mencapai tahap universal.

Bahasa teknisnya: kalau studi di Falkutas tidak dengan diuji oleh Malioboro, maka ia paling jauh hanya menjadi Sarjana Fakultatif. Melalui ujian pengembaraan Malioboro, seseorang akan menjadi Sarjana Universitas atau Sarjana Universal.

Jalanan Malioboro, di pangkal lorong kamar misterius itu, sangat gaduh dan riuh rendah. Sementara ia, si penemuh Malioboro, menyusurinya dengan dan dalam kesunyian. Ia mencatat tahap "jadilah Wali yang mengembara" itu dengan kata-kata: "Sunyi, bekerjalah kau". Maka orang menyimpulkan ia adalah Penyair.

***

(halaman 237-238)

Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Rumah Budaya EAN
Cetakan Pertama Agustus 2019
Dipublikasikan : Banawa Maiyah

You Might Also Like:

Buka Komentar